Sejarah panjang Surabaya sejak zaman Keraton Mataram hingga masa pendudukan Belanda terekam dalam satu kawasan Kampung Lawas Maspati. Bak melampaui lorong waktu tempoe doeloe, jalan kampung ini menawarkan masa patih Kerajaan Mataram dengan istal kudanya. Hingga seperti yang terasa di teras rumah bekas kediaman Raden Soemomihardjo, tokoh Keraton Surakarta yang dipanggil “ndoro mantri” oleh warga Maspati. Juga di bekas sekolah Ongko Loro atau sekolah desa di masa pendudukan Belanda. Dari masa perjuangan juga masih ada bangunan bekas pabrik roti milik Haji Iskak yang menjadi dapur umum saat pertempuran bersejarah 10 November 1945. Dengen tegel antik dan detail unik di dalamnya, bangunan tersebut sejak tahun 1958 hingga kini beralih fungsi menjadi Losmen “Asri”. Dan masih banyak lagi bangunan peninggalan kolonial yang tertata rapi dengan langgam arsitektur khas Indis hingga ekletis (campuran). Benar seperti kata petualang Belanda, Artus Gijsels, Surabaya adalah “Amsterdam from the east” atau kembaran Kota Amsterdam dari Timur.
Belum ada homestay
Kampung Lawas Maspati memiliki aksesibilitas yang baik dan mudah dijangkau menggunakan berbagai moda transportasi, seperti kendaraan pribadi, sepeda motor, mobil, angkutan umum, taksi, maupun transportasi berbasis aplikasi. Di kawasan kampung juga tersedia mobil ELF yang digunakan untuk mendukung aktivitas wisata, seperti mengantar dan menjemput rombongan wisatawan dari titik parkir menuju lokasi kampung wisata apabila diperlukan. Fasilitas ini memudahkan mobilitas wisatawan, terutama rombongan dalam jumlah besar, sehingga kunjungan dapat berlangsung lebih nyaman, tertib, dan efisien. Selain itu, lokasi Kampung Lawas Maspati telah terintegrasi dengan Google Maps dan didukung rambu penunjuk arah sehingga memudahkan wisatawan dalam menemukan lokasi destinasi.
Kampung Lawas Maspati memiliki pemandu wisata (tour guide) yang siap mendampingi wisatawan selama kegiatan berlangsung. Pemandu terdiri dari warga setempat yang telah memahami sejarah, budaya, lingkungan, dan seluruh daya tarik Kampung Lawas Maspati. Layanan pemandu tersedia untuk wisatawan domestik maupun mancanegara, dengan pemandu berbahasa Indonesia dan Inggris. Dalam pelaksanaannya, pengelola juga berkolaborasi dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) untuk mendukung pelayanan rombongan wisatawan dalam jumlah besar. Seluruh pemandu berperan memberikan informasi, mengatur alur kunjungan, memastikan keselamatan wisatawan, serta menciptakan pengalaman wisata yang edukatif, nyaman, dan berkesan.