Kampung Wisata Warungboto merupakan salah satu bentuk pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (community-based-tourism) yang lahir dari upaya pelestarian warisan budaya sekaligus pemberdayaan masyarakat potensi lokal . Gagasan pembentukan kampung wisata ini berawal pada tahun 2010, ketika muncul keprihatinan salah satu elemen masyarakat terhadap kondisi bangunan cagar budaya Pesanggrahan Rejowinangun (yang kini lebih dikenal dengan nama Situs Warungboto). Pada masa itu kawasan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sebagai destinasi wisata, sehingga keberadaannya cenderung terbengkalai dan belum mamapu memberikan dampak sosial ekonomi maupun edukatif pada masyarakat sekitar. Berangkat dari kondisi tersebut, muncul pemikiran menjadikan kawasan Warungboto sebagai ruang yang tidak hanya sebagai orientasi pada pelestarian cagar bangunan, tetapi juga sebagai pusat aktivitas masyarakat yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan, seni, budaya dan sejarah. Konsep tersebut dikembangkan melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengelolaan kawasan wisata. Pendekatan ini sejalan dengan paradigma pembangunan pariwisata berkelanjutan yang menempatkan masyarakat lokal sebagai subjek dalam proses perencanaan, pengembangan dan pemanfaatan potensi.
Konsep Kampung Wisata Warungboto kemudian dirancang dengan mengusung empat pilar utama, yaitu, wisata edukasi,wisata seni, wisata budaya dan wisata sejarah. Aspek edukasi diwujudkan melalui penyampaian pengetahuan mengenai sejarah kawasan,, pelestarian cagar budaya, serta pengenalan nilai-nilai kearifan lokal kepada masyarakat dan pengunjung. Pilar seni dikembangkan melalui berbagai aktivitas kesenian yang melibatkan pelaku seni lokal sebagai media ekspresi sekaligus pelestarian budaya. Sementara itu, aspek budaya diwujudkan melalui penguatan gtradisi, adat istiadat, serta praktik budaya masyarakat yang masih dilestarikan atau masih ada di lingkungan Warungboto. Adapun dimensi sejarah menjadi landasan utama pengembangan kawasan, mengingat keberadaan Pesanggrahan Rejowinangun sebagai salah satu peninggalan penting pada masa Kasultanan Yogyakarta yang memiliki nilai historis tinggi. Setelah memlaui proses perencanaan, konsolidasi dengan masyarakat dan pengembangan kelembagaan sejak 2010 Kampung Wisata Warungboto secara resmi diresmikan pada 30 Juni 2013. Peresmian tersebut menandai dimulainya pengelolaan kawasan secara terstruktur sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat yang mengedepankan pelestarian warisan budaya sekaligus pemberdayaan ekonomi lokal. Sejak sat itu, kawasan Kmapung Wisata Warungboto berkembang sebagai ruang kolaboratif yang menghubungkan kepentingan konservasi cagar budaya, pendidikan publik, pengembangan senidan budaya, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Secara konseptual, pendirian Kampung Wisata Warungboto menunjukkan bahwa pelestarian cagar budaya tidak hanya dimaknai sebagai upaya menjaga keberadaan fisik bangunan bersejarah, melainkan juga sebagai strategi pengembangan kawasan yang mampu menghasilkan manfaat multidimensional. Melaui integrasi fungsi edukatif, kultural, historis, dan ekonomi, Kampung Wisata Warungboto menajadi contoh implementasi pengelolaan warisan budaya yang berorientasi pada berkelanjutan (sustainable management), dimana pelestarian nilai sejarah berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat dan penguatan identitas lokal dan saat ini Kampung Wisata Warungboto dikenal sebagai kawasan yang berhasil memadukan wisata sejarah, wisata budaya, wisata edukasi, wisata kuliner, wisata ekonomi kreatif dan wisata lingkungan.
Potensi keunggulan Kampung Wisata Warungboto
Unique Selling Point Kampung Wisata Warungboto terletak pada kemampuannya mengintegrasikan wisata sejarah, edukasi, budaya, ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat dalam satu ekosistem pariwisata berbasisi komunitas (community- based tourism). Kampung Wisata Warungboto menawarkan pengalaman wisata yang bersifat partisipatif di mana wisatawan tidak hanya berkunjung tapi juga terlibat secara langsung dalam bernagai aktifitas edukatif dan kreatif yang dikelola masyarakat lokal.
Paket wisata pewarnaan kain shibori,paket wisata pembuatan wayang upcycle dan pengolahan sampah organik.