Rumah Adat Limbungan adalah perkampungan adat Suku Sasak di Dusun Limbungan, Desa Perigi, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kampung ini berada di ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut, di lereng Gunung Rinjani, dan masih dihuni turun-temurun oleh warga adat Limbungan — kurang lebih 235 kepala keluarga.
Permukiman terbagi dua bagian: Limbungan Barat dan Limbungan Timur. Di kedua bagian itu berdiri lebih dari 200 unit rumah adat yang masih ditempati. Rumah-rumah dibangun bergotong royong dengan bahan anyaman bambu (bedek), beratap jerami atau ilalang, bertiang kayu, dan berlantai tanah. Setiap blok tersusun 7 sampai 11 rumah dalam satu garis lurus dengan jarak hampir seragam, dan seluruh rumah menghadap ke timur.
Dari kawasan ini wisatawan dapat memandang Laut Selat Alas beserta pulau-pulau kecil di sisi selatan, dan deretan pegunungan Rinjani beserta hutan lindung di sisi utara. Wisatawan juga dapat menyaksikan kegiatan warga sehari-hari: mengolah hasil pertanian, menjemur tembakau pada musimnya, dan membuat anyaman atau kerajinan yang disebut nyesek. Karena itu Limbungan terasa seperti kampung yang benar-benar hidup, bukan kawasan yang disiapkan khusus untuk wisata.
Kampung ini juga menyimpan tradisi yang masih berjalan. Setiap bulan Muharram digelar Tetulaq Desa, ritual menutup pintu bala yang dipimpin Tetoaq dan para Bombong Sesaweq Desa. Di mata air di atas kampung, warga melaksanakan ngayu-ayu dengan sesajian Nasi Sekeq berupa ayam putih mulus. Sementara rumah induk yang dikenal sebagai Bale Batu Maliq diperbaiki secara gotong royong atau begawe, dan menurut adat perbaikannya wajib selesai dalam waktu 1 kali 24 jam.
Limbungan berjarak sekitar 15 kilometer dari Kecamatan Pringgabaya dengan waktu tempuh 20 sampai 30 menit, sekitar 67 kilometer dari Bandara Internasional Lombok di Praya, dan sekitar 72 kilometer dari Kota Mataram. Jalan menuju kampung menanjak dan berkelok dengan pemandangan yang terbuka ke arah laut, sehingga perjalanan itu sendiri sudah menjadi bagian dari pengalaman berkunjung. Kendaraan besar seperti bus pariwisata belum dapat masuk sampai ke kawasan.