Desa Wisata Sumberbening berada di Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur. Berada di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 600–1.000 meter di atas permukaan laut, Sumberbening dikelilingi hutan, perbukitan, dan perkebunan kopi yang membentuk karakter alam serta kehidupan masyarakatnya. Kondisi geografis tersebut tidak hanya menghadirkan udara sejuk dan panorama pegunungan, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi Kopi Sengunglung, salah satu potensi lokal yang menjadi bagian penting dari identitas Desa Sumberbening.
Sumberbening dikembangkan sebagai desa wisata dengan mengangkat wisata alam, edukasi kopi, dan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat. Dalam pengembangannya, Gunung Sengunglung dan Kampung Kopi Sengunglung menjadi dua kekuatan utama yang saling melengkapi. Gunung Sengunglung menghadirkan pengalaman eksplorasi alam dan cerita konservasi, sementara Kampung Kopi Sengunglung menghadirkan pengalaman wisata berbasis perkebunan yang membawa wisatawan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dan proses kopi lokal.
Kopi Sengunglung bukan sekadar komoditas perkebunan bagi masyarakat Sumberbening. Kopi menjadi bagian dari kehidupan, lanskap, dan potensi ekonomi desa yang terus dikembangkan menjadi pengalaman wisata. Wisatawan tidak hanya diajak melihat kebun kopi, tetapi dapat mengenal tanaman kopi, memahami proses budidayanya, merasakan pengalaman memetik kopi sesuai musim, mengenal proses pengolahan, hingga menyaksikan roasting dan menikmati cita rasa kopi. Dengan demikian, perjalanan wisata di Sumberbening dapat membawa wisatawan dari kebun hingga cangkir, sekaligus mengenalkan masyarakat yang berada di balik setiap prosesnya.
Perjalanan tersebut memiliki latar belakang yang kuat. Sejak dahulu masyarakat Sumberbening telah hidup berdampingan dengan tanah, hutan, pertanian, dan perkebunan kopi. Namun, potensi tersebut pada awalnya belum sepenuhnya memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Hasil kopi masih banyak dipandang sebagai komoditas yang dijual dalam bentuk hasil kebun, sementara peluang untuk mengembangkan kopi sebagai bagian dari pengalaman wisata dan ekonomi kreatif desa masih terbuka luas.
Di sisi lain, pada tahun 2009 masyarakat Sumberbening menghadapi ancaman eksplorasi tambang emas di kawasan Gunung Sengunglung. Gunung yang selama ini menjadi bagian penting dari sumber air, lingkungan, dan kehidupan masyarakat tersebut dipertahankan melalui perjuangan bersama warga, petani, pemuda, tokoh masyarakat, dan Pemerintah Desa. Rencana eksploitasi akhirnya batal dan Gunung Sengunglung tetap terjaga hingga sekarang.
Dari perjuangan mempertahankan gunung tersebut, masyarakat Sumberbening menemukan arah baru: alam yang dijaga dapat menjadi sumber kesejahteraan tanpa harus dieksploitasi. Gunung Sengunglung dapat dikembangkan sebagai destinasi pendakian dan wisata alam, sementara perkebunan kopi dapat dikembangkan menjadi ruang edukasi, pengalaman, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui Kampung Kopi Sengunglung.
Perubahan tersebut perlahan menggeser cara pandang terhadap kopi. Kopi Sengunglung tidak lagi hanya dilihat sebagai hasil perkebunan, tetapi sebagai bagian dari cerita desa yang dapat dinikmati wisatawan. Perkebunan menjadi ruang belajar, aktivitas petani menjadi pengalaman, proses pengolahan menjadi atraksi edukasi, dan kopi menjadi produk yang memperkenalkan identitas Sumberbening kepada pengunjung.
Sejak tahun 2020, Pemerintah Desa bersama masyarakat, Pokdarwis Sengunglung, dan BUMDes mulai menata potensi wisata secara bertahap. Kampung Kopi Sengunglung menjadi salah satu fokus penting dalam pengembangan ekonomi desa, berdampingan dengan Gunung Sengunglung dan Rest Area Thuk Dhali. Pengembangan tersebut kemudian diperkuat melalui pelatihan, pengembangan destinasi, peningkatan kapasitas masyarakat, promosi, penyusunan paket wisata, serta penguatan kelembagaan desa wisata.
Pengembangan Kampung Kopi Sengunglung juga menunjukkan bahwa kopi memiliki peluang untuk menjadi produk unggulan sekaligus pengalaman wisata. Hal tersebut tercermin dari capaian Juara 3 Kategori Pengembangan Ekonomi Desa melalui Kampoeng Kopi Sengunglung pada 2022, serta Juara 2 Kategori Pengembangan Ekonomi Desa melalui Agrowisata Kampoeng Kopi Sengunglung pada 2023. Capaian tersebut menjadi penguat bahwa kopi memiliki posisi strategis dalam pengembangan ekonomi dan pariwisata Sumberbening.
Dalam konsep pengembangan ke depan, Gunung Sengunglung menjadi daya tarik utama wisata alam dan konservasi, sedangkan Kampung Kopi Sengunglung menjadi penguat identitas, pengalaman, dan ekonomi lokal. Rest Area Thuk Dhali berperan sebagai ruang penerima dan titik temu wisatawan, sementara berbagai potensi wisata pendukung memperkaya pengalaman perjalanan di Desa Sumberbening.
Dengan demikian, wisatawan yang datang ke Sumberbening tidak hanya datang untuk mendaki gunung. Mereka dapat menjelajahi Gunung Sengunglung, berkunjung ke Kampung Kopi Sengunglung, mengenal kehidupan petani, merasakan proses kopi dari kebun hingga cangkir, serta berinteraksi dengan masyarakat lokal.
Sumberbening pada akhirnya bukan hanya menawarkan sebuah destinasi, tetapi sebuah cerita: tentang gunung yang dipertahankan dari eksploitasi, kopi yang tumbuh dari tanah yang dijaga, dan masyarakat yang berusaha mengubah kekayaan alam menjadi kesejahteraan tanpa kehilangan jati dirinya.
Dari Gunung Sengunglung yang dijaga, tumbuh Kopi Sengunglung yang bercerita. Dari kebun hingga cangkir, setiap tegukan membawa cerita tentang alam, masyarakat, dan masa depan Desa Sumberbenin