Desa Womom dan Resye terletak di pesisir Kabupaten Tambrauw, akses ke kedua desa ini hanya dapat ditempuh dengan menggunakan transpotasi laut (boat). Masyarakat di kedua desa ini berasal dari suku Abun, salah satu suku asli yang mendiami pesisir kabupaten Tambrauw.
Desa Womom dan Resye memiliki keunikan dengan adanya pantai yang indah serta menjadi tempat peneluran bagi spsesies Penyu Belimbing (Dermochelys coriaceadi), hewan yang saat ini berstatus konservasi. Pantai yang sering di kenal dengan nama Pantai Jeen Womom, pantai khusus yang disenangi oleh penyu belimbing untuk bertelur karena jenis pasirnya. Selain penyu, wisatawan juga dapat menikmati keindahan burung cendrawasih dan kupu-kupu sayap burung. Sekitar 30 menit perjalanan dari desa ke pantai ini, wisatawan diberikan keindahan pemandangan pasir putih dan melihat spot batu rumah dan spot batu penyu yang sangat indah dan memiliki cerita unik. Sementara selama wisatawan berada di desa, wisatawan akan disuguhkan dengan keindahan alam saat matahari terbit dan tenggelam, kicauan burung yang terdengar selama berada di dalam kampung. Masyarakat suku Abun yang ramah akan menceritakan dan mengajak wisatawan untuk terlibat langsung dengan kegiatan berkebun, berburu (cara membuat jerat), cara merajut noken dan mengolah makanan lokal yang dilakukan dengan kearifan lokal masyarakat.
Jika ingin menikmati keindahan alam serta melihat langsung proses peneluran dari spesies Penyu Belimbing (Dermochelys coriaceadi), datanglah saat musim peneluran.
Desa Wisata Jeen Womom – Kampung Womom & Resye berada di Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Wisatawan umumnya memulai perjalanan dari Kota Sorong melalui Bandara Domine Eduard Osok (DEO), kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju Kabupaten Tambrauw melalui jalur Sorong–Sausapor–Tobouw. Dari Tobouw, wisatawan melanjutkan perjalanan menuju Kampung Womom dan Kampung Resye melalui jalan kabupaten yang dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Untuk mencapai kawasan Pantai Jeen Womom dan lokasi peneluran Penyu Belimbing, tersedia transportasi lokal yang dikelola masyarakat serta jalur pejalan kaki menuju titik-titik pengamatan. Akses menuju destinasi dapat dilakukan sepanjang tahun, dengan waktu tempuh dari Kota Sorong sekitar 6–8 jam tergantung kondisi cuaca dan jalan.
Desa Wisata Jeen Womom – Kampung Womom & Resye memiliki pemandu wisata yang berasal dari masyarakat lokal dan tergabung dalam Pokdarwis Ekowisata Refun. Pemandu bertugas mendampingi wisatawan pada kegiatan pengamatan Penyu Belimbing, interpretasi lingkungan, wisata budaya, trekking, serta memberikan edukasi mengenai konservasi alam dan adat istiadat masyarakat setempat. Pengembangan kapasitas pemandu dilakukan secara bertahap melalui pembinaan dari pemerintah daerah dan mitra konservasi.
Saat ini Desa Wisata Jeen Womom – Kampung Womom & Resye belum memiliki Koperasi Merah Putih. Pengelolaan usaha wisata masih dilaksanakan oleh Pokdarwis Ekowisata Refun bersama masyarakat adat. Ke depan direncanakan pembentukan koperasi sebagai wadah penguatan kelembagaan, pengelolaan usaha wisata, pemasaran produk lokal, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Hingga saat ini Desa Wisata Jeen Womom – Kampung Womom & Resye belum memperoleh penghargaan resmi di tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional. Namun desa wisata telah dikenal sebagai kawasan konservasi Penyu Belimbing yang dikelola bersama masyarakat adat dan secara aktif memperoleh pendampingan dari Universitas Papua (UNIPA) serta mitra PIONER dalam kegiatan konservasi, penelitian, edukasi lingkungan, dan penguatan kapasitas masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi dasar pengembangan desa wisata yang berkelanjutan.
Desa Wisata Jeen Womom – Kampung Womom & Resye aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pengembangan pariwisata dan konservasi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Tambrauw, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, perguruan tinggi, dan lembaga mitra. Selain itu, desa wisata mengikuti program pembinaan desa wisata serta menjadi lokasi kegiatan penelitian dan edukasi konservasi Penyu Belimbing bersama Universitas Papua (UNIPA) dan mitra PIONER. Pada tahun 2026, desa wisata berpartisipasi dalam Wonderful Indonesia Tourism Village Awards (WIA) 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengelolaan destinasi berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat.