Di tangan para laki-laki Welora, tempurung kelapa yang sering dianggap sebagai limbah diubah menjadi berbagai kerajinan bernilai guna, seperti teko, cangkir, kotak penyimpanan, hingga miniatur. Setiap ukiran dikerjakan secara manual dengan ketelitian tinggi, memanfaatkan bahan alami yang tersedia di sekitar desa tanpa menghasilkan banyak limbah. Kerajinan ini mencerminkan filosofi masyarakat Welora untuk menghargai setiap pemberian alam dengan mengolahnya menjadi karya yang bermanfaat, indah, dan berkelanjutan.