Ritus Pager Gunung Selo Bonang merupakan ritus sakral tahunan yang digelar pada hari Pager Gunung sebagai bentuk penghormatan, perawatan, dan pelestarian Gunung Argopuro sebagai ruang hidup, sumber penghidupan, dan pusat spiritual masyarakat. Ritus ini dimaknai sebagai upaya simbolik dan nyata untuk memagari gunung—bukan dengan batas fisik, melainkan dengan kesadaran kolektif, doa, dan laku budaya agar alam tetap terjaga dari kerusakan.
Dilaksanakan di lanskap geo-kultural Selo Bonang, ritus ini menggabungkan doa lintas tradisi, persembahan alam, bunyi batu bernada, air, dan hening, sebagai bahasa spiritual antara manusia dan gunung. Setiap elemen ritus merepresentasikan relasi kosmologis: gunung sebagai ibu penjaga, manusia sebagai perawat, dan alam sebagai titipan antargenerasi.
Ritus Pager Gunung tidak bersifat tontonan, melainkan pengalaman partisipatif yang penuh tata krama, di mana warga, tetua adat, seniman, dan peserta hadir dalam sikap rendah hati dan kesadaran ekologis. Prosesi ini sekaligus menjadi ruang transmisi nilai-nilai kearifan lokal, etika lingkungan, dan pengetahuan lanskap kepada generasi muda.
Melalui Ritus Pager Gunung, Selo Bonang menegaskan komitmennya terhadap pelestarian Pegunungan Argopuro secara budaya dan spiritual, memperkuat identitas desa sebagai ruang kebudayaan hidup yang merawat gunung tidak hanya dengan kebijakan, tetapi juga dengan ritus, rasa, dan tanggung jawab bersama.